Diduga Minta 15 ‘Ika’, Ketua Pansus P3K Talaud Dikabarkan Dicopot dari Jabatan Plt Kepala BKPSDM

Akibat Dugaan Permainan Uang di Seleksi

POSKO, MANADO-Pasca POSKO MANADO membongkar dugaan permainan MAFIA dalam Seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Kabupaten Kepulauan Talaud TA 2023, beberapa hari terakhir; informasi soal ‘borok’ dalam seleksi yang diselenggarakan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Talaud terus bermunculan.

Baca juga:

Tercium Dugaan Permainan Uang di Hasil Seleksi P3K Talaud

Seperti yang diungkapkan sumber resmi POSKO MANADO, Rabu (24/01/2024), Ketua Pansus P3K Talaud Frenki Tiolong dikabarkan dicopot dari jabatan Plt Kepala BKPSDM, karena diduga ada oknum-oknum tak bertanggungjawab dalam Pansel yang meminta uang ke peserta seleksi sekira Rp 15 juta.

“Ketua Pansus (P3K, Tiolong) dicopot dari jabatan Plt Kepala BKPSDM akhir tahun lalu; karena ada peserta yang mengeluh setiap peserta dimintai uang 15 ‘ika’ (juta),” ungkapnya.

Baca juga:

Dugan Kongkalikong Menguat, Pansel P3K Talaud Tegaskan Tidak Ada Campur Tangan Mafia

Dikatakan, keluhan ini sampai ke telinga pimpinan daerah dan tak sampai sehari, Tiolong langsung dicopot dari jabatan Plt Kepala BKPSDM.

“Meski begitu tetap saja MAFIA P3K masih beraksi dalam seleksi. Buktinya saat pengumuman hasil seleksi, banyak guru berprestasi yang mendapatkan nilai tinggi saat ujian CAT (Computer Assisted Test) tidak lolos, diduga akibat nilainya dikurangi dalam SKT (Seleksi Kompetensi Teknis) Tambahan oleh Pansel,” pungkas sumber.

Frenki Tiolong, Ketua Pansel P3K Talaud.

Terpisah, dikonfirmasi via WhatsApp di 082187304xxx, Tiolong menuturkan tidak mengetahui ia dicopot dari jabatan Plt Kepala BKPSDM Talaud; karena dugaan oknum-oknum tak bertanggungjawab dalam Pansel yang meminta uang Rp 15 juta ke setiap peserta seleksi P3K.

Baca juga:

Ternyata Penilaian SKT di Seleksi P3K Berdasarkan Keputusan Pansel

“Saya tidak tahu soal cerita itu (dicopot dari jabatan Plt Kepala BKPSDM). Saya diganti karena dasar cerita itu (dugaan oknum-oknum tak bertanggungjawab di Pansel yang minta uang ke peserta P3K). Saya tidak tahu. Tapi semua itu kewenangan pimpinan daerah untuk (memercayakan) siapa yang memimpin BKPSDM,” tuturnya.

Ia kemudian menegaskan, tidak pernah meminta atau menyuruh anggota Pansel untuk meminta uang ke peserta seleksi P3K.

“Soal itu (dugaan permintaan uang ke peserta seleksi P3K), saya tegaskan tidak pernah meminta, menerima bahkan tidak mengenal orang (peserta yang diminta uang) itu,” tutupnya.

Baca juga:

Ketua Pansel Seleksi P3K Talaud Akui Pelaksanaan SKT Biang Masalah

Dalam pemberitaan sebelumnya, sumber menyebut, tercium dugaan permainan uang di seleksi P3K.

“Ada dugaan, permainan uang dalam Seleksi P3K Talaud. Dimana, agar peserta bisa lolos seleksi, harus menyetor sejumlah uang kepada MAFIA P3K,” sebutnya.

Dikatakan, dari penilaian peserta oleh Pansel yang seharusnya didasari pada keadilan dan transparansi; diduga berubah berdasarkan setoran uang.

“Penilaian Pansel harusnya objektif. Seperti guru yang sudah mengabdi bertahun-tahun, itu harusnya bisa lolos seleksi. Tapi karena diduga tak bisa menyetor sejumlah uang ke MAFIA P3K, jadi tak lolos seleksi,” katanya.

Baca juga:

SKT Tambahan Pansel P3K Talaud Diduga Jadi ‘Alat’ MAFIA

Lanjut sumber, yang menjadi korban adalah guru-guru berprestasi. Meski nilai ujian Computer Assisted Test (CAT) sangat tinggi, tapi tak lolos karena diduga nilai mereka dikurangi saat penilaian Seleksi Kompetensi Teknis (SKT) Tambahan oleh Pansel.

“Banyak guru-guru berprestasi yang nilai CAT tinggi, tak lolos seleksi. Sebab nilainya dikurangi saat SKT Tambahan oleh Pansel. Anehnya, yang mendapatkan nilai rendah saat CAT, diduga itu mendapat nilai tinggi saat SKT Tambahan dan lolos seleksi,” ujarnya.(ian)