Pihak SD NuliCedo Mangaran Biarkan Kasus Dugaan Guru Honor Bullying Murid?

Korban Sudah Sepekan Tak Sekolah Karena Ketakutan

Wali Akan Bawa ke Ranah Hukum

Grafis STOP BULLYING Divisi Humas Polri.

POSKO, MANADO-Sudah sepekan kasus dugaan oknum guru di SD NuliCedo Mangaran melakukan perundungan atau bullying kepada murid. Meski begitu, pihak sekolah terkesan melakukan pembiaran.

Buktinya, sampai saat ini, tidak ada upaya dari pihak sekolah yang saat ini dipimpin Kepala Sekolah (Kepsek) Bernadeta Maarebia untuk melakukan pengurusan oknum guru wali kelas V inisial EA alias Epifianti bersama dengan wali murid dari Bunga (nama samaran), siswi yang jadi korban.

Baca juga:

Diduga Pihak Sekolah SD NuliCedo Mangaran Cuek dengan Dugaan Bully Murid

“Sampai saat ini, tidak ada dari pihak sekolah yang datang atau menghubungi kami untuk menyelesaikan masalah ini (dugaan bullying kepada Bunga),” ungkap Didi Arunde, wali dari Bunga saat dihubungi POSKO MANADO, Selasa (06/02/2024).

Menurutnya, sejak kejadian bullying ketiga, Selasa (30/01/2024) lalu, yang diduga dilakukan EA alias Epifianti, GURU HONORER yang dipercayakan sebagai wali kelas V; hingga saat ini, Bunga sudah takut ke sekolah lagi. “Kami sudah membujuk Bunga untuk pergi ke sekolah lagi. Tapi ia hanya menangis dan mengatakan tidak mau sekolah, karena takut dimarahi dan dihukum oleh guru,” keluh Arunde dengan nada suara terdengar sedih.

Ditegaskan, jika tidak ada langkah tegas dari pihak sekolah, ia akan membawa masalah ini ke ranah hukum. Sebab Bunga sudah menjadi trauma dan pihak sekolah hanya diam.

“Karena sekolah (SD NuliCedo) tidak mengambil langkah tegas menyelesaikan (dugaan) bullying terhadap Bunga oleh wali kelas V (EP alias Epifianti), saya akan membawa masalah ini ke ranah hukum,” tegasnya.

“Karena ini sudah membuat mental Bunga terganggu. Apalagi di Januari (2024) sudah terjadi tiga kali (dugaan) bullying terhadap Bunga. Dan sekarang Bunga sudah ketakutan ke sekolah lagi karena mereka (pihak SD NuliCedo) hanya biarkan hal ini. Mereka pandang enteng soal masalah ini,” sambung Arunde.

Baca juga:

Diduga Oknum Guru di SD NuliCedo Mangaran Bully Siswi

Sementara itu, Kepsek Bernadeta Maarebia saat dihubungi via WhatsApp di 082271582xxx untuk konfirmasi, sekira pukul 09.45 WITA, 09.47 WITA dan 09.49 WITA, tak merespon. Begitu juga pesan yang dikirim 09.50 WITA, hingga berita ini tayang tak dibalas.

Dalam pemberitaan sebelumnya, dugaan aksi tak terpuji tersebut terjadi tiga kali di Januari 2024 ini kepada Bunga.

Insiden dugaan bully ini pertama terjadi saat Perayaan Tahun Baru Bersama Sekolah 11 Januari lalu. “Pertama saat acara Tahun Baru Bersama sekolah. Cucu saya mau ambil makanan dan minuman, tapi ada oknum guru mata pelajaran langsung marah-marah. Padahal itu bekal yang dibawa cucu saya,” ungkap Arunde.

Yang kedua terjadi 23 Januari. Dimana Bunga karena tak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), bukannya dibina tapi diduga mendapat perlakuan dugaan bully dari oknum guru wali kelasnya. Tak tanggung-tanggung, akibat perbuatan dari oknum guru ini, Bunga menangis sejak awal sekolah hingga sampai di rumah.

“Bunga tidak buat PR karena mengaku tidak mengerti. Ini sudah dikatakan Bunga kepada wali kelasnya, bukan dibuat mengerti tapi malah Bunga dibuat menangis sepanjang hari. Bunga menangis tak berhenti sejak awal sekolah. Sampai di rumah pun ia tak berhenti menangis,” kata Arunde.

“Bunga itu sampai tertekan. Bahkan sampai tidak mau ke sekolah lagi. Sampai sekarangpun ia tak mau mengatakan apa yang dibuat wali kelas kepada dirinya saat itu,” sambungnya.

Ketiga, Selasa (30/01/2024). Bunga diduga mendapat hukuman yang tidak wajar wali kelasnya karena terlambat. “Betul Bunga terlambat datang sekolah. Tapi diberi sanksi yang wajar. Masa anak kelas V SD dihukum berlutut antara pukul 10.00 WITA hingga 12.00 WITA? Padahal pagi sudah dihukum berdiri. Saat di kelas wali kelas hukum berlutut lagi dan mengatakan tidak akan memberikan nilai,” keluh Arunde.

Sebagai orang tua, ia menegaskan tidak menerima dengan perlakuan yang diterima Bunga dari oknum guru tersebut. “Apalagi perlakuan tersebut membuat Bunga trauma dan tak mau pergi ke sekolah lagi,” tutup Arunde.(ian)