Ronny F Sompie: Jangan Ada Perbedaan Layanan Bagi Peserta BPJS dan Pasien Umum

POSKO, MANADO – Polemik soal layanan kesehatan yang tak memadai kepada bayi kembar tiga yang lahir dari keluarga peserta BPJS asal Desa Karegesan, Likupang; di RS Hermina Lembean yang viral beberapa waktu lalu; ditanggapi serius Ronny F Sompie, Pemerhati dan Pelaku Budaya Minahasa.

Kepada POSKO MANADO, Minggu (21/05/2023), ia menekankan, tidak ada aturan yang menyatakan peserta BPJS hanya mendapat perawatan selama tiga hari.

“Tidak ada aturan yang menyatakan BPJS hanya membatasi perawatan peserta selama tiga hari!” tekannya.

Ditegaskan Sompie, hal ini juga sesuai dengan pernyataan Direktur Utama (Dirut) BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti. “Sudah ada penegasan dari Dirut BPJS Kesehatan, kalau tidak ada pembatasan durasi rawat inap bagi peserta. Karena, lamanya rawat inap seorang pasien, itu tergantung pada dokter yang bertanggung jawab,” tegas sala satu putra terbaik Minahasa yang pernah menjabat Kapolda Bali ini.

Lanjut sosok visioner ini, peserta BPJS itu, harus mendapat perawatan yang terbaik hingga sembuh. Dan tidak ada pembatasan soal berapa lama waktu perawatan.

“Jadi tidak ada alasan atau aturan-aturan yang dibuat oleh pihak-pihak lain untuk memberatkan pasien peserta BPJS. Karena pelayanan kesehatan itu didapat hingga pasien sembuh. Bukan memiliki durasi waktu layanan sehari, dua hari atau tiga hari,” kata Sompie.

Atas hal tersebut, eks Dirjen Imigrasi ini menuturkan, BPJS merupakan juru bayar bagi peserta untuk mendapatkan layanan kesehatan hingga sembuh.

“Pertama, BPJS itu adalah juru bayar di rumah sakit bagi rakyat yang dirawat di rumah sakit. Kedua, BPJS harus membayar biaya perawatan pasien sampai sembuh,” tutup Sompie.

Sebelumnya, viral soal bayi kembar tiga yang lahir di Puskesmas Likupang dari keluarga tak mampu; yang dirujuk ke RS Hermana Lembean.

Dalam perawatan di RS Hermana Lembean, keluarga pasien mengeluhkan soal tak jelasnya proses pelayanan tim medis.

“Anaknya saya pemegang BPJS kelas 1, namun dirawat di kelas 2. Alasan dari pihak RS Hermana Lembean, ini disebabkan ruangan penuh,” ungkap Putri (34), warga Desa Karegesan, orang tua salah satu pasien anak yang mendapatkan perawatan.

Dikatakan, pihak RS Hermana Lembean kemudian menjanjikan akan memindahkan anaknya sesuai kelas dalam kepesertaan BPJS.

“Kami sempat mendapat informasi sudah ada ruangan kelas 1 yang kosong; tapi bukan anak saya yang dipindahkan, melainkan ruangan tersebut diisi pasien yang lain,” keluh Putri. (ian)