Sekretaris Rektor UNIMA Jamin Ijazah 17 Guru Yapen Prodi PAUD yang Terbit 2020 Sesuai Aturan

Siwij: Coba Cek, NIM 2015 Kalau Tidak Salah

Katanya Ini Rumus DO Mahasiswa

POSKO, MANADO-Polemik ijazah 17 guru Kabupaten Yapen Prodi PAUD di UNIMA yang keluar 2020; saat Deitje Katuuk baru menjabat sebagai Rektor, dijamin sesuai aturan oleh Sekretaris Rektor Devie Siwij.

Kepada POSKO MANADO, ia mengatakan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) belasan guru tersebut 2015.

Baca juga:

Ini Tanggapan UNIMA Terkait Surat Bupati Yapen yang Menyatakan PAUD Masuk PSKGJ

“Kalau (17 guru Yapen dari Prodi) PAUD coba cek, NIM 2015 kalau tidak salah. Tapi coba cek, NIM boleh cek,” katanya saat dikonfirmasi Senin (28/08/2023), via WhatsApp di 0812-9294-6xxx.

Ia kemudian menjamin, ijazah yang keluar dari UNIMA selalu ijazah nasional. Sehingga, ijazah mahasiswa yang sudah lewat masa studi tidak bisa keluar.

“Saya mau jelaskan, di kampus (UNIMA) itu kami selalu ijazah nasional. Biar mau atur bagaimana, tetap di (ijazah) nasional NIM kelihatan. Tidak mau keluar ijazah itu. Tidak mau keluar, masa NIM tua, NIM sudah lewat masa studi terus mau keluar. (Ijazah) tidak bakalan mau keluar itu,” jaminnya.

Anehnya, ia tak dapat memastikan kalau belasan guru Yapen tersebut yang sebelumnya diklaim ikut jalur pendidikan reguler; bukan dari PSKG kerjasama antara Pemkab Yapen dan UNIMA, masuk di 2015.

“Belum. Saya akan cek. Tapi logikanya begitu. Bagaimana mungkin pemerintah pusat keluarkan ijazah kalau NIM sudah lewat waktu. Begitu,” ucapnya.

Baca juga:

Surat Bupati Yapen Nyatakan 17 Guru Jurusan PAUD Ikut Jalur PSKGJ

Siwij kemudian menceritakan, saat ini banyak mahasiswa yang ujian sarjana ditolak. Sebab sudah melewati masa waktu perkuliahan. Begitu juga Rektor UNIMA tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, ijazah dikeluarkan pusat.

“Di sini, di UNIMA, orang protes masa NIM tidak bisa diperpanjang, tidak bisa diatur bagaimana; supaya ada yang sudah ujian skripsi. Setelah lewat waktu sudah ditolak ujian sarjana. Karena Rektor (Katuuk) jelaskan mau buat bagaimana? Walupun kami mau kasih ujian, tapi ijazah tidak akan keluar. Sebab ijazah pusat yang keluarkan. Ada nomor ijazah nasional, begitu,” ceritanya.

Dipastikan lagi soal 17 guru Yapen tersebut kuliah jalur reguler tanpa melewati waktu drop out (DO) atau dinyatakan putus kuliah; Siwij malah menyebut soal rumus DO.

“N kali dua kurang satu. N itu empat tahun (masa perkuliahan mahasiswa) normal, kali dua kurang satu. Begitu rumusnya. Kita dilogika saja. Saya tidak pastikan (tahun) 2000 berapa NIM mereka (17 guru Yapen). Hanya biasanya itu (batas mahasiswa kuliah) tujuh tahun. Aturan tujuh tahun batas waktu, langsung DO (kalau lewat),” sebutnya.

Baca juga:

Ini Klarifikasi Rektor UNIMA Terkait Perkara Korupsi PSKGJ di Yapen

Ia kemudian kembali bercerita lagi soal permasalahan mahasiswa UNIMA yang memiliki NIM 2016 di tahun ini. Dimana, karena sudah melewati rumus DO mahasiswa, Rektor Katuuk menyatakan tidak bisa, sudah terlambat; meski orangtua para mahasiswa tersebut sudah datang menghadap untuk memohon.

“Rupa tahun ini, yang (NIM) 2016 mahasiswa saya banyak. Sudah ujian skripsi, mau ujian satu kali lagi sudah tidak bisa. Sudah terlambat,” bebernya.

“Tapi Rektor (Katuuk) kasian tinggal mau menangis terus tidak. Karena orang tua sudah datang bermohon anak mereka 2016 bisa lulus. Tapi Rektor bilang, kalau kasih ujian pun tidak bisa. Sebab ijazah harus ijazah nasional,” sambungnya lagi.(Ian)