Kolaborasi di Bibir Pantai: Saat Polisi dan Jurnalis Bersihkan Sampah di Lembeh

Foto bersama personel Direktorat Polairut Polda Sulut dan anggota JPS usai kegiatan bersih pantai.

BITUNG – Angin laut berembus pelan di pesisir Pantai Serena, Pulau Lembeh, Jumat siang. Ombak kecil berkejaran di bibir pantai, namun yang mencolok bukan hanya panorama lautnya, melainkan hamparan sampah plastik yang terseret arus, seolah menjadi “tamu tak diundang” di surga kecil di Pulau Lembe.

Di tengah pemandangan itu, puluhan orang bergerak serempak. Mereka bukan sekadar petugas, bukan pula sekadar peliput. Di sana, aparat Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulut berdiri berdampingan dengan para jurnalis. Tanpa sekat, mereka memungut botol plastik, mengangkat styrofoam di bibir pantai.

Direktur Polairut Polda Sulut Kombes Pol Bayuaji Yudha Prasaja bersama Jurnalis saat memungut sampah di Pantai Serena, Pulau Lembe.

Di bawah komando Direktur Polairud Polda Sulut, Kombes Pol Bayuaji Yudha Prasaja, aksi ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia turun langsung, menyusuri garis pantai, memastikan setiap sudut tersapu bersih. Di sampingnya, Koordinator Jurnalis Polda Sulut (JPS), Ronny Journey Lumempouw, ikut mengangkat karung sampah, mengganti pena dengan aksi nyata.

“Ini bukan hanya soal membersihkan pantai, tapi bagaimana kita semua hadir dan bertanggung jawab,” begitu kira-kira semangat yang tergambar dari langkah-langkah mereka di pasir basah sore itu.

Pantai Serena bukan satu-satunya yang menghadapi persoalan ini. Setiap musim angin barat, gelombang laut kerap membawa “kiriman” sampah dari berbagai penjuru. Plastik, kemasan makanan, hingga limbah kayu terdampar tanpa bisa memilih tempat.

Bayuaji memahami betul pola ini. Namun baginya, penyebab bukan lagi hal utama yang diperdebatkan, melainkan tindakan yang harus segera dilakukan.

Karung demi karung terisi. Suara gesekan plastik bercampur dengan debur ombak. Dalam hitungan jam, sebanyak 31 karung sampah berhasil dikumpulkan. Sebuah angka yang bukan kecil, namun juga menjadi pengingat betapa besar persoalan yang dihadapi.

Bagi para jurnalis yang hadir, hari itu menjadi berbeda. Biasanya mereka berdiri di belakang kamera atau mencatat data di lapangan dan menyusun menjadi sebuah narasi. Namun kali ini, mereka menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Ronny Journey Lumempouw menegaskan, peran jurnalis tak berhenti pada kata-kata. Ada tanggung jawab moral untuk ikut terlibat, memberi dampak nyata di tengah masyarakat.

Dan sore itu, pesan tersebut tak lagi sekadar narasi, ia menjadi tindakan nyata.

Sulawesi Utara dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan laut yang luar biasa. Terumbu karang, biota laut, hingga ekosistem pesisir menjadi aset yang tak ternilai. Namun semua itu bisa terancam oleh hal sederhana yang kerap dianggap sepele: sampah.

Aksi di Pantai Serena menjadi potret kecil dari upaya besar menjaga alam tetap indah. Ketika aparat, jurnalis, dan masyarakat bersatu, ada harapan bahwa kesadaran itu akan menular dari satu pantai ke pantai lain.

Sore mulai meredup saat karung-karung terakhir diangkut ke kapal. Pantai Serena perlahan kembali menampakkan wajah aslinya lebih bersih, lebih lega.

Karena menjaga laut, pada akhirnya, bukan soal satu hari aksi. Melainkan tentang kebiasaan yang harus terus hidup di darat, sebelum sampah itu kembali menemukan jalannya ke laut.(lon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *