MANADO, Poskomanado.co.id – Bandara Sam Ratulangi menggelar Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) atau Airport Emergency Exercise (AEE) 2026, Kamis (21/5/2026).
Latihan berskala penuh ini mengusung tema “Synergy for Capability Development, Collaboration for Stronger Emergency Readiness” sebagai bentuk penguatan kesiapsiagaan darurat dan koordinasi lintas instansi di lingkungan bandar udara.
Kegiatan tersebut melibatkan total 508 personel yang terdiri dari unsur internal bandara maupun stakeholder eksternal, termasuk TNI, Polri, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), hingga tim penanggulangan darurat lainnya.
AEE 2026 diawali dengan simulasi Airport Security Exercise (Avsec Exercise) berupa penanganan aksi demonstrasi massa dan ancaman bom di area kargo bandara.
Dalam skenario itu, sekelompok massa melakukan aksi demonstrasi di area kargo disertai indikasi barang mencurigakan dan ancaman bahan peledak di lobi kargo.
Penanganan situasi melibatkan Tim Jihandak Brimob Polda Sulut, TNI AU, serta stakeholder terkait guna melakukan sterilisasi area dan proses evakuasi sesuai prosedur keamanan bandar udara.
Latihan kemudian dilanjutkan dengan simulasi Disaster Exercise berupa gempa bumi yang memicu korsleting listrik hingga menyebabkan kebakaran kecil di ruang tunggu penumpang.
Petugas gabungan langsung melakukan pemadaman api, evakuasi penumpang, hingga penanganan korban bersama unsur Balai Kekarantinaan Kesehatan dan instansi terkait lainnya.
Puncak kegiatan berlangsung dalam simulasi kecelakaan pesawat atau Aircraft Accident Exercise.
Dalam skenario tersebut, pesawat Julang Airlines penerbangan PK JIA rute Jakarta-Manado menggunakan armada Boeing 737-800 mengalami kecelakaan saat proses pendaratan di Bandara Sam Ratulangi Manado.
Pesawat yang membawa 75 penumpang dan awak itu disebut mengalami gagal pendaratan akibat terpaan crosswind ekstrem berkekuatan 12 hingga 15 knot.
Kondisi tersebut membuat pilot kehilangan kendali hingga pesawat mengalami ground loop dan berhenti di dekat jalur inspeksi bandara.
Akibat insiden tersebut, mesin kanan pesawat terbakar, roda depan patah, serta terjadi kebocoran bahan bakar di bagian sayap kanan.
Seluruh personel yang terlibat kemudian mempraktikkan prosedur penanganan kecelakaan pesawat, evakuasi korban, pengamanan lokasi, hingga penanganan keluarga korban dan media handling exercise.
CEO Region V Angkasa Pura Indonesia, Handy Heryuditiawan mengatakan latihan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapsiagaan dan sinergi lintas instansi di lingkungan bandara.
“Sebagai pengelola bandara, kami harus selalu siap dalam setiap kondisi demi memastikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa bandara,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelaksanaan latihan menjadi solusi dalam menghadapi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan.
Sementara itu, General Manager InJourney Airports Kantor Cabang Bandara Sam Ratulangi Manado, Radityo Ari Purwoko memastikan operasional bandara tetap berjalan normal selama latihan berlangsung.
“Kami memastikan kegiatan operasional Bandara Sam Ratulangi Manado tidak terganggu selama jalannya latihan karena telah berkoordinasi dengan seluruh stakeholder bandara,” katanya.
Ia berharap latihan tersebut semakin memantapkan koordinasi antarinstansi sekaligus menguji kesiapan prosedur, peralatan, dan personel dalam menghadapi kondisi darurat di bandar udara.(***/daus)












