Dengan pengamanna dari Tim URC Polda Sulut dan Sekuriti Megamas, dokter William memeriksa mobil miliknya sebelum dibawa ke Polresta Manado.
MANADO, Poskomanado.co.id – Dokter berinisial WW alias William, yang mengaku sebagai adik Kapolda menyerahkan diri ke pihak Kepolisian, Sabtu (10/10/2026), setelah aksinya yang diduga hendak menabrak sekuriti Megamas Manado viral di media sosial.
Kanit II URC Ditreskrimum Polda Sulut, Ipda Andros Hinur, mengatakan timnya mengidentifikasi William dan melakukan pendekatan hingga yang bersangkutan datang untuk memberikan klarifikasi.
“Setelah kami mengidentifikasi laki-laki tersebut, kami melakukan pendekatan. Yang bersangkutan kemudian datang kepada kami untuk mengklarifikasi kejadian tadi subuh,” ujar Andros, Sabtu malam.
Dalam pemeriksaan awal, William mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada pihak kepolisian. Namun, polisi tetap melanjutkan penanganan perkara karena korban telah menyampaikan pengaduan.
Andros menjelaskan, pihaknya berkoordinasi dengan Satreskrim Polresta Manado untuk menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada penyidik setempat.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Manado, Kompol Elwin Kristanto, mengatakan jajarannya langsung bergerak setelah melihat unggahan viral mengenai keributan dan dugaan pencatutan nama salah satu pimpinan kepolisian di Polda Sulut.
Tim gabungan URC Polresta Manado, Satintel, Satlantas, serta personel Polda Sulut kemudian melakukan profiling untuk mengetahui identitas dan keberadaan William.
Dari hasil penelusuran, polisi mengetahui bahwa dokter tersebut tinggal di Kota Bitung. Tim lalu menghubunginya dan meminta kehadirannya untuk menjalani klarifikasi.
Saat ini, penyidik Satreskrim Polresta Manado memeriksa William guna mendalami perkara tersebut dan mengungkap fakta di balik insiden yang viral itu.
Elwin menegaskan, pemeriksaan bertujuan memperoleh keterangan lengkap mengenai kejadian serta dugaan tindakan terhadap sekuriti Megamas.
“Terduga pelaku sedang dimintai keterangan untuk mengetahui cerita dan kronologi kejadian secara utuh,” tandas Elwin.
Sekadar diketahui, Insiden yang terjadi sekitar pukul 02.30 WITA itu diduga bermula ketika pria tersebut menabrak traffic cone dan rambu larangan di depan kantor pemasaran Megamas. Saat Risky menegurnya, pengemudi itu justru diduga mengejar sekuriti tersebut menggunakan mobil.
Risky mengaku awalnya melihat kendaraan itu menabrak fasilitas lalu lintas. Ia kemudian membuntuti mobil tersebut dengan sepeda motor hingga berpapasan di sekitar Cafe Mistik.
Risky menghentikan kendaraan itu dan meminta pengemudinya menurunkan kaca. Namun, teguran tersebut justru memicu ketegangan.
“Tiba-tiba dia bilang, ‘Oh, saya tabrak aset, ya?’ Kemudian dia mundurkan mobilnya lalu hendak menabrak saya. Selanjutnya saya lari dan dia mengejar dari belakang memakai mobil,” ungkap Risky saat ditemui di kediaman ayahnya, Sabtu pagi.
Menurut Risky, pengejaran berlanjut dari Cafe Mistik, melewati belakang Mie Gacoan, hingga ke depan Hotel Wish Prime. Ia merasa terancam karena pengemudi itu diduga berulang kali mengarahkan mobil ke arahnya.
“Karena dia begitu bertekad menabrak, mobilnya secara brutal menabrak papan petunjuk lalu lintas. Saya terus melaju mencari rekan kerja karena hampir dia tabrak buta-buta dari belakang,” tuturnya.
Risky kemudian menuju pintu kawasan untuk menghindari bahaya. Sejumlah sekuriti lain turut menghadang mobil tersebut di sekitar area depan klenteng.
Di lokasi itu, pengemudi tersebut mengaku sebagai adik Kapolda, menurut penuturan Risky.
“Dalam kondisi mabuk berat, dia bilang, ‘Kalian mau lapor ke Kapolres dan Kapolda, ya? Saya ini adik Kapolda. Silakan lapor,’” kata Risky menirukan ucapan pria tersebut.
Risky juga menyebut pria itu mengenakan kaus bertuliskan Siloam. Namun, ia belum dapat memastikan identitas maupun status pekerjaan pengemudi tersebut.
Setelah insiden itu, pria tersebut sempat menyatakan kesediaannya mengganti kerusakan fasilitas. Ia meminta manajemen mengeluarkan surat resmi untuk keperluan tersebut.
Tak lama berselang, kakak pria itu datang menjemputnya. Menurut informasi yang diterima Risky dari leader sekuriti, pihak keluarga juga menyampaikan permintaan maaf kepada petugas.
Sementara itu, mobil listrik Denza yang digunakan pengemudi tersebut sempat ditinggalkan di depan kawasan Milenium. Risky mengaku tidak mengetahui apakah kendaraan itu masih berada di sana atau sudah diambil.
Terpisah, Kamrin, ayah Risky yang berprofesi sebagai wartawan desk Polda Sulut, mendesak manajemen Megamas menindaklanjuti insiden tersebut. Ia meminta pihak terkait menempuh jalur hukum jika menemukan indikasi tindak pidana.
Menurut Kamrin, keselamatan pekerja harus menjadi prioritas, terlepas dari jabatan maupun hubungan keluarga yang diklaim seseorang.
“Ini tindakan yang sesungguhnya harus diselidiki. Tolong manajemen proses hukum itu. Saya tidak pusing mau dia adik Kapolda atau adik Presiden. Kalau ada indikasi membahayakan nyawa orang, harus diproses hukum,” tegasnya.
Kamrin berharap polisi memeriksa keterangan para saksi dan menelusuri bukti yang tersedia agar penanganan kasus ini berjalan profesional.(lon)






