Eks Rektor UNIMA Sebut WR II yang Tangani Langsung MEGA PROYEK LABORATORIUM TERPADU

DEITJE KATUUK: Jadi Saya Tidak Tau

MANADO, poskomanado.co.id–Eks REKTOR UNIMA DEITJE KATUUK angkat suara terkait polemik MEGA PROYEK LABORATORIUM TERPADU TA 2024 dengan total PAGU Rp 41,5 miliar.

Kepada POSKO MANADO, REKTOR periode 2020-2024 ini mengatakan, bukan dirinya yang menangani MEGA PROYEK yang terdiri dari PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK dengan KODE RUP 47672482 dan PAGU Rp 36.000.000.000,-; serta RENOVASI GEDUNG LABORATORIUM dengan KODE RUP 47672480 dan PAGU Rp 5.511.444.000,-; melainkan WAKIL REKTOR (WR) II.

“Yang LAB itu (MEGA PROYEK LABORATORIUM TERPADU TA 2024), yang tangani itu langsung WR II,” sebutnya saat dikonfirmasi via sambungan WhatsApp di 0821-9671-3xxx, Rabu (15/04/2026), sekira pukul 13.02 WITA.

Atas hal tersebut, dikatakan, dirinya tak tau persis soal pelaksanaan proyek dengan PPK PENGADAAN NICKY TUMALUN dan PPK RENOVASI SUSAN KALENGKONGAN. “Jadi saya tidak tau, tidak tau persis,” katanya.

Sebelumnya NICKY TUMALUN menyebutkan, sesuai PROPOSAL, PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK bukan di LABORATORIUM TERPADU, melainkan di Laboratorium Program Studi (Prodi) setiap fakultas. Tapi saat pelaksanaan, ‘BOS BESAR’ buat KEBIJAKAN SEOLAH-OLAH LABORATORIUM TERPADU.

“Jadi agak beda sedikit antara proposal dan pelaksanaan. Dan itukan bukan kewenangan saya. Itu tentu harus tanya BOS BESAR. BOS BESAR yang tentukan. Waktu penyusunan proposal itu, itu, itu harusnya per lab tapi sesudah dalam pelaksanaannya dikonsolidasikan jadi satu lab. Itu sudah bukan kewenangan saya,” katanya saat dikonfirmasi POSKO MANADO via di 0852-5651-1xxx, beberapa waktu lalu.

Ditanya siapa yang dimaksud sebagai ‘BOS BESAR’, NICK TUMALUN mengatakan pimpinan UNIMA saat itu. “Yah jelas saat itu pimpinan saat itulah. Musti tanya? kan saat itu sudah jelas. Pimpinan saat itu yang berkuasa saat itu yang mengambil kebijakan bikin LAB (LABORATORIUM) TERPADU begitu. Tapi itu sudah dalam perjalanan bukan dari serta pelaksanaan di tahun anggaran yang jadi begitu,” bebernya.

Ditanya apakah bos besar yang ia maksud eks REKTOR UNIMA DEITJE KATUUK atau REKTOR UNIMA yang sekarang, NICKY TUMALUN menyebut DEITJE. “Yah masih DEITJE,” sebutnya.

Ditanya lagi untuk memperjelas soal maksud pernyataannya kalau yang mengatur PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK berbanderol Rp 36 miliar dalam pelaksanaan TAK SESUAI PROPOSAL, karena DIBUAT SEOLAH-OLAH LABORATORIUM TERPADU, adalah eks REKTOR DEITJE KATUUK; NICKY TUMALUN membenarkan.

“Ha begitu. Tapi untuk di proposal dan perencaan memang terpisah. Jadi begini, kami itu ada proposal, di porposal itu ada perencanaan yang di dalam proposal. Tapi di perencanaan ternyata itu jadi satu, begitu.Dan itu nya, nya, nya, nya, nya jadi itu yang jadi masalanya di situ. Kan kalau saya, karena itu bukan bagian saya, tidak masuk campur. Saya pasif saja, melaksanakan saja sesuai bidang saya,” ujarnya.

Diperjelas kalau maksud pernyataannya terakhir kalau ia hanya bekerja sesuai Tupoksi di PROYEK PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK, NICKY TUMALUN mengiyakan. Dimana ia mengklaim bekerja sesuai usulan dari user.

“Iya, sesuai pengusul. Sesuai user. Si user yang usul, saya kembalikan ke mereka. Walupun, yah salah-salah lab belum jadi (RENOVASI LAB belum selesai). Jadi walupun saya mau kasih di LAB (LABORATORIUM) TERPADU itu, tetap memang tidak bisa apa-apa. Tidak ada, mau isi di bangunan yang belum jadi? Tidak mungkin toh?” tuturnya.

Terpisah, DEITJE KATUUK saat dikonfirmasi membantah hal tersebut. “Emang Rektor yang buat-buat proposal?” tekannya.

Diketahui, di atas kertas, MEGA PROYEK LABORATORIUM TERPADU UNIMA berbaderol puluhan miliar rupiah tersebut, sudah selesai dikerjakan dan seharusnya sementara dipergunakan. Laporan administrasi menyebutkan pengerjaan rampung dengan dua gedung megah yang sudah direnovasi serta peralatan laboratorium yang diklaim sudah lengkap tersedia.

Namun, fakta di lapangan menyuguhkan ironi yang berbeda. Dimana, dua gedung eks Prodi Pendidikan Jasmani FIK ini yang seharusnya penuh dengan peralatan laboratorium, malah kosong melompong. Peralatan laboratorium mahal malah tersebar di laboratorium Prodi fakultas-fakultas. Juga untuk renovasi diduga kuat asal-asalan dan tak sesuai dengan anggaran.(ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *