DEITJE KATUUK: Ya, Dia yang Lebih Tau



MANADO, poskomanado.co.id–Nama SANUSI GUGULE mencuat di POLEMIK MEGA PROYEK LABORATORIUM TERPADU UNIMA TA 2022 dengan total PAGU Rp 41,5 miliar. Dimana, eks WAKIL REKTOR (WR) II ini disebut DEITJE KATUUK, REKTOR UNIMA periode 2020-2024, yang TANGANI LANGSUNG proyek tersebut.
“Yang LAB (MEGA PROYEK LABORATORIUM TERPADU) itu, yang tangani itu langsung itu WR II. Jadi saya tidak tau, tidak tau persis,” kata DEITJE KATUUK saat dikonfirmasi POSKO MANADO via sambungan WhatsApp di 0821-9671-3xxx, Rabu (15/04/2026), sekira pukul 13.02 WITA, terkait dirinya disebut oleh PPK PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK NICKY TUMALUN; sebagai ‘BOS BESAR’ yang membuat pelaksanaan proyek TIDAK SESUAI PROPOSAL.
Ditanya siapa WR II saat itu yang dirinya maksud, sebab di 2024, selain SANUSI GUGULE, REKTOR UNIMA yang sekarang, JOSEPH KAMBEY, juga pernah memegang jabatan WR II. DEITJE KATUUK menyebut SANUSI GUGULE. “Pak SANUSI GUGULE,” sebutnya.
Menurutnya, SANUSI GUGULE yang paling tau soal MEGA PROYEK yang terdiri dari PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK dengan KODE RUP 47672482 dan PAGU Rp 36.000.000.000,-; serta RENOVASI GEDUNG LABORATORIUM dengan KODE RUP 47672480 dan PAGU Rp 5.511.444.000,-. “Ya, dia yang lebih tau,” tutup DEITJE KATUUK.
Terpisah, SANUSI GUGULE berkali-kali dihubungi via sambungan dan pesan WhatsApp di 0896-1941-6xxx, belum merespon upaya konfirmasi. Terakhir, dihubungi Jumat (17/04/2026), sekira pukul 12.59 WITA, 13.00 WITA dan 13.01 WITA, tetap tak merespon. Begitu juga pesan sekira pukul 13.03 belum dibalas hingga berita ini tayang.
Sebelumnya, NICKY TUMALUN menyebutkan, sesuai PROPOSAL, PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK bukan di LABORATORIUM TERPADU, melainkan di Laboratorium Program Studi (Prodi) setiap fakultas. Tapi saat pelaksanaan, ‘BOS BESAR’ buat KEBIJAKAN SEOLAH-OLAH LABORATORIUM TERPADU.
“Jadi agak beda sedikit antara proposal dan pelaksanaan. Dan itukan bukan kewenangan saya. Itu tentu harus tanya BOS BESAR. BOS BESAR yang tentukan. Waktu penyusunan proposal itu, itu, itu harusnya per lab tapi sesudah dalam pelaksanaannya dikonsolidasikan jadi satu lab. Itu sudah bukan kewenangan saya,” katanya saat dikonfirmasi POSKO MANADO via di 0852-5651-1xxx, beberapa waktu lalu.
Ditanya siapa yang dimaksud sebagai ‘BOS BESAR’, NICK TUMALUN mengatakan pimpinan UNIMA saat itu.
“Yah jelas saat itu pimpinan saat itulah. Musti tanya? kan saat itu sudah jelas. Pimpinan saat itu yang berkuasa saat itu yang mengambil kebijakan bikin LAB (LABORATORIUM) TERPADU begitu. Tapi itu sudah dalam perjalanan bukan dari serta pelaksanaan di tahun anggaran yang jadi begitu,” bebernya.
Ditanya apakah bos besar yang ia maksud eks REKTOR UNIMA DEITJE KATUUK atau REKTOR UNIMA yang sekarang, NICKY TUMALUN menyebut DEITJE. “Yah masih DEITJE,” sebutnya.
Ditanya lagi untuk memperjelas soal maksud pernyataannya kalau yang mengatur PENGADAAN PERALATAN LABORATORIUM DAN TIK berbanderol Rp 36 miliar dalam pelaksanaan TAK SESUAI PROPOSAL, karena DIBUAT SEOLAH-OLAH LABORATORIUM TERPADU, adalah eks REKTOR DEITJE KATUUK; NICKY TUMALUN membenarkan.
“Ha begitu. Tapi untuk di proposal dan perencaan memang terpisah. Jadi begini, kami itu ada proposal, di proposal itu ada perencanaan yang di dalam proposal. Tapi di perencanaan ternyata itu jadi satu, begitu.Dan itu nya, nya, nya, nya, nya jadi itu yang jadi masalahnya di situ. Kan kalau saya, karena itu bukan bagian saya, tidak masuk campur. Saya pasif saja, melaksanakan saja sesuai bidang saya,” ujarnya.
Sedangkan DEITJE saat dikonfirmasi membantah hal tersebut. “Emang Rektor yang buat-buat proposal?” tekannya.(ian)






