Warga Tanjung Merah Bakar PT Futai, Ini Penyebab dan Kronologi Versi Mereka

BITUNG, poskomanado.co.id – Warga Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari melakukan penyerangan ke PT Futai Sulawesi Utara. Akibatnya, sejumlah bangunan dan satu unit mobil perusahaan dibakar massa.

Penyerangan warga Tanjung Merah ke PT Futai terjadi Selasa (15/7/2026) malam sekitar pukul 21.00 WITA. Penyerangan bermula dari aksi penghadangan terhadap mobil kontainer yang baru keluar dari PT Futai.

Warga melakukan penghadangan karena menduga PT Futai kembali menjalankan aktivitas produksi. Padahal sesuai instruksi Walikota Bitung Hengky Honandar, PT Futai seharusnya tidak berproduksi untuk sementara waktu. Hal itu dikarenakan persoalan limbah yang tak kunjung teratasi sampai hari ini.

Sejumlah bangunan milik perusahaan jadi sasaran amukan warga pada peristiwa itu. Bangunan itu antara lain mess karyawan, garasi, pagar perusahaan, dan beberapa unit produksi lainnya. Satu unit mobil perusahaan yang tengah diparkir juga ikut jadi sasaran.

Meski demikian, korban dari rangkaian peristiwa ini justru datang dari masyarakat. Laporan sementara menyebut ada tiga orang yang terluka cukup parah akibat terkena lemparan batu. Sementara, satu korban lainnya mengalami persekusi karena disekap di dalam perusahaan.

Data korban ini belum final. Pasalnya menurut warga masih ada beberapa korban lain yang belum terdata. Tiga orang yang terluka parah diketahui pasti karena mereka langsung dibawa ke rumah sakit pasca insiden.

Warga Tanjung Merah memang melakukan penyerangan pada malam itu. Namun berdasarkan penuturan mereka, aksi itu justru dipicu oleh sikap perusahaan atau pun karyawan.

Hal ini sebagaimana disampaikan Morisa Untu, salah satu warga Tanjung Merah yang ditemui di lokasi kejadian. Morisa menceritakan kronologi awal hingga terjadinya penyerangan oleh warga.

“Jadi mereka (perusahaan dan karyawan,red) yang memulai lebih dulu. Mereka yang melempar batu ke arah kami,” ujarnya.

Morisa mengakui warga memang melakukan penghadangan ke mobil kontainer yang keluar dari perusahaan. Hal itu dilakukan mereka karena menganggap perusahaan telah mengingkari kesepakatan bersama dengan Walikota dan Forkopimda.

“Kami memang mencegat mobil kontainer karena kami curiga perusahaan kembali berproduksi. Apalagi sejak beberapa hari terakhir bau busuk kembali muncul. Dan ternyata benar, mobil kontainer yang kami cegat isinya kertas semua yang siap diekspor. Mobil itu hendak menuju ke pelabuhan,” ungkapnya.

Kendati begitu, masyarakat tak langsung bersikap anarkis. Mereka meminta sopir mobil kontainer kembali ke perusahaan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Permintaan itu pun dipenuhi sopir.

“Karena sopir setuju kami akhirnya menuntun dia kembali ke perusahaan. Mobil terpaksa berjalan mundur karena tidak bisa berputar di jalan sempit. Tapi begitu sampai di depan pagar perusahaan, tiba-tiba ada lemparan batu dari arah dalam. Nah, lemparan batu inilah yang menyebabkan warga marah dan melakukan pembakaran,” terangnya.

Morisa menduga aksi pelemparan itu sudah direncanakan terlebih dahulu. Sebab menurut penglihatan dia, batu yang dilemparkan ke arah warga cukup banyak. Mirisnya, saat pelemparan itu terjadi di dalam kompleks perusahaan sudah ada polisi yang berjaga.

“Karena setahu kami di dalam perusahaan tidak ada batu. Di situ tidak ada tanah karena dicor semua. Dan yang sangat disayangkan kedatangan kami ke situ bukan untuk menyerang, tapi untuk menuntun sopir mobil kontainer supaya kembali masuk ke dalam. Jadi memang mereka yang memulainya dan membuat kami jadi marah,” tukasnya.

Sampai berita ini selesai dibuat, keterangan dari pihak perusahaan maupun kronologi versi mereka belum diperoleh. Beruntung saat ini situasi sudah kondusif menyusul turunnya aparat kepolisian dalam jumlah besar ke kompleks PT Futai. Selain itu, aparat TNI juga dikerahkan untuk mengamankan keadaan.

Tak cuma Kapolres Bitung AKBP Arie Sulistyo Nugroho, Wakil Walikota Bitung Randito Maringka juga ikut turun ke Tanjung Merah meredakan situasi. Mereka didampingi Lurah Tanjung Merah Bartje Ticoalu.(bds)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *