BITUNG, poskomanado.co.id – Ancaman inflasi tinggi membayangi masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) jelang akhir tahun ini. Terganggunya rantai pasok barang dari Pelabuhan Bitung ke berbagai daerah bakal jadi pemicunya.
Ancaman terjadinya inflasi ini disampaikan oleh pengurus Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia/Indonesian Logistics and Forwarders Association atau ALFI/ILFA, Kamis (10/9/2026) sore. Ihwal dari ancaman ini tidak lain distribusi solar di SPBU yang terindikasi marak penyimpangan.
“Kalau persoalan ini (penyimpangan distribusi solar,red) tidak diselesaikan maka siap-siap saja terjadi inflasi gila-gilaan di Sulut,” ujar Ramlan Ifran selaku Ketua DPW ALFI/ILFA Sulut, saat ditemui di Restoran Ayam Penyet, Pusat Kota Bitung.
Gangguan terhadap rantai pasok barang sejatinya sudah terjadi saat ini. Hal itu disebabkan oleh sulitnya armada kargo darat memperoleh BBM jenis solar di setiap SPBU. Dan bukan hanya di Bitung saja, kondisi tersebut terjadi di hampir seluruh wilayah di Sulut. Antrian mobil panjang di SPBU sudah jadi pemandangan lazim.
“Ini dirasakan semua anggota kami. Armada kami kesulitan mendapatkan solar untuk mendukung aktivitas pengangkutan barang. Ada yang sudah mengantri berjam-jam tetap tidak dapat,” tukasnya.
Karena itu, Ramlan berharap kondisi ini bisa menjadi perhatian semua pihak, terutama pemerintah dan aparat penegak hukum. ALFI/ILFA sendiri sudah menyiapkan langkah jika armada kargo mereka tetap kesulitan memperoleh solar. Mereka akan mogok mengangkut barang dari pelabuhan karena tidak ingin merugi.
“Karena ketika rantai pasok barang terganggu yang pertama mengalami kerugian adalah kita. Kita harus membayar demurrage karena barang tertahan di pelabuhan. Nah, kalau terus-terusan seperti ini, lebih baik kita berhenti saja mengangkut barang,” tandasnya.
Kendati begitu, Ramlan menegaskan ALFI/ILFA selaku wadah yang menaungi pelaku usaha rantai pasok barang tidak menginginkan hal di atas terjadi. Dampaknya sangat fatal karena harga-harga barang bakal melonjak drastis, sehingga secara keseluruhan akan mengganggu perekonomian masyarakat.
“Apalagi ini kan situasinya jelang akhir tahun, jadi kebutuhan masyarakat biasanya lebih meningkat dibanding periode lain. Kasihan kan kalau harga-harga barang jadi naik semua,” katanya.
Terkait situasi ini, ALFI/ILFA memastikan akan mengirim surat ke Gubernur Sulut Yulius Selvanus. Surat itu berisi keluhan perihal sulitnya memperoleh solar di SPBU, serta potensi ancaman yang mungkin terjadi ketika rantai pasok barang terganggu. Harapannya surat ini bisa ditindaklanjuti dengan tindakan nyata.
“Kita akan menyurat ke Pak Gubernur dengan tembusan Kapolda dan Pangdam. Harapan kami semoga ada langkah yang diambil terkait situasi ini, sehingga apa yang dikhawatirkan soal inflasi tidak terjadi,” ucapnya.
Ramlan menyatakan akan menunggu respons pemerintah dan aparat penegak hukum atas surat yang mereka kirim. Jika seandainya respons yang diharapkan tidak nampak, maka ALFI/ILFA akan menghentikan aktivitas mereka mengangkut barang. Langkah itu terpaksa diambil guna menghindari kerugian operasional mereka.
Pengurus ALFI/ILFA baru selesai menggelar rapat saat ditemui sore tadi. Rapat itu sengaja digelar guna membahas situasi yang sementara berlangsung, termasuk rencana penghentian aktivitas pengangkutan barang. Makanya saat diwawancarai Ramlan didampingi sejumlah pengurus teras ALFI/ILFA, diantaranya Wakil Ketua Jemmy Wungkana dan Sekretaris Toni Yunus.(bds)












