Oknum dokter yang mengaku sebagai adik Kapolda saat dicegat sekuriti Megamas. Insert foto: mobil yang digunakan untuk mengejar sekuriti.
MANADO, Poskomanado.co.id – Seorang petugas sekuriti kawasan Megamas Manado bernama Risky mengaku nyaris ditabrak seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai Wiliam dan disebut-sebut sebagai dokter dari Siloam Hospital.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 02.30 WITA itu, diduga bermula saat pria tersebut menabrak fasilitas lalu lintas di depan kantor pemasaran Megamas. Ketika ditegur, pengemudi itu disebut justru mengejar Risky menggunakan mobil.
Menurut Risky, kejadian bermula ketika dirinya melihat kendaraan tersebut menabrak traffic cone dan rambu larangan. Ia kemudian membuntuti mobil itu menggunakan sepeda motor hingga berpapasan di sekitar Cafe Mistik.
Risky lalu menghentikan kendaraan tersebut dan meminta pengemudinya menurunkan kaca mobil. Namun, situasi berubah tegang setelah pria itu merespons teguran tersebut.
“Tiba-tiba dia bilang, ‘Oh, saya tabrak aset, ya?’ Kemudian dia mundurkan mobilnya lalu hendak menabrak saya. Selanjutnya saya lari dan dia mengejar dari belakang memakai mobil,” ungkap Risky saat ditemui di kediaman ayahnya, Sabtu pagi.
Risky mengaku terus dikejar dari kawasan Cafe Mistik menuju belakang Mie Gacoan hingga ke depan Hotel Wish Prime. Dalam situasi tersebut, ia merasa keselamatannya terancam karena kendaraan itu diduga beberapa kali diarahkan ke arahnya.
“Karena dia begitu bertekad menabrak, mobilnya secara brutal menabrak papan petunjuk lalu lintas. Saya terus melaju mencari rekan kerja karena hampir dia tabrak buta-buta dari belakang,” tuturnya.
Untuk menghindari bahaya, Risky bergerak menuju pintu kawasan. Sejumlah sekuriti lainnya kemudian menghadang kendaraan tersebut di sekitar area depan klenteng.
Di lokasi itu, pria tersebut disebut melontarkan pernyataan yang mengaitkan dirinya dengan Kapolda.
“Dalam kondisi mabuk berat, dia bilang, ‘Kalian mau lapor ke Kapolres dan Kapolda, ya? Saya ini adik Kapolda. Silakan lapor,’” kata Risky menirukan ucapan pria itu.
Risky menyebut pengemudi tersebut mengenakan kaus bertuliskan Siloam. Meski demikian, identitas dan status pekerjaannya belum terkonfirmasi secara independen.
Setelah kejadian, pria itu disebut sempat menyatakan kesediaan mengganti kerusakan fasilitas kawasan. Namun, ia meminta agar proses tersebut menggunakan surat resmi dari kantor.
Tak lama kemudian, kakak pria tersebut datang untuk menjemputnya. Berdasarkan informasi dari leader sekuriti, keluarga itu juga sempat menyampaikan permintaan maaf kepada petugas.
Sementara itu, mobil listrik merek Denza yang digunakan pria tersebut sempat ditinggalkan di depan kawasan Milenium. Risky mengaku tidak mengetahui apakah kendaraan itu masih berada di lokasi atau sudah diambil.
Terpisah, Kamrin, ayah Risky yang berprofesi sebagai wartawan desk liputan Polda Sulut, mendesak manajemen Megamas agar menindaklanjuti insiden tersebut dan membawa persoalan itu ke jalur hukum apabila ditemukan dugaan tindak pidana.
Ia menegaskan bahwa keselamatan pekerja harus menjadi perhatian, tanpa memandang jabatan maupun hubungan keluarga yang diklaim oleh pihak bersangkutan.
“Ini tindakan yang sesungguhnya harus diselidiki. Tolong manajemen proses hukum itu. Saya tidak pusing mau dia adik Kapolda atau adik Presiden. Kalau ada indikasi membahayakan nyawa orang, harus diproses hukum,” tegas Kamrin.
Ia berharap aparat kepolisian memeriksa keterangan para saksi dan bukti yang tersedia agar persoalan tersebut dapat ditangani secara profesional.(lon)











