BITUNG, poskomanado.co.id- Imbauan pemerintah soal menggunakan masker serta mengurangi aktivitas di luar rumah bukan tanpa alasan. Imbauan itu berdasarkan fakta ilmiah menyangkut kualitas udara di Bitung selang beberapa waktu terakhir, terutama imbas bermigrasinya asap karhutla dari daerah lain.
Merianti Dumbela selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Bitung membenarkan hal tersebut. Dihubungi Selasa (20/10/2026) sore tadi, ia tak menampik kualitas udara di Bitung sedang tidak baik-baik saja.
“Memang ada penurunan kualitas udara menyusul banyaknya kejadian karhutla akhir-akhir ini,” ujarnya via sambungan ponsel.
Klaim penurunan kualitas udara ini bersumber dari pengukuran yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu. Kementerian melakukan pengukuran dengan meminta sampling dari Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Bitung.
Meski pengukuran tersebut dilakukan Bulan Juli lalu, namun ada sejumlah kesimpulannya yang relevan dengan situasi saat ini. Salah satunya soal konsentrasi PM (particulate matter) 2.5 yang melebihi standar baku mutu yang ditetapkan.
“Untuk NOx (nitrogen oksida,red) dan COx (karbon oksida,red) memang masih sesuai baku mutu. Tapi untuk PM 2.5 ternyata sudah melebihi. Nah, PM 2.5 yang di atas baku mutu ini sangat berbahaya bagi kesehatan,” tukas Merianti.
Ia lalu membandingkan hasil pengukuran tersebut dengan kondisi saat ini. Pengukuran dimaksud dilakukan pada Bulan Juli di saat migrasi asap karhutla belum terjadi, namun konsentrasi PM 2.5 pada udara di Bitung sudah melebihi standar baku mutu. Bisa dibayangkan kalau pengukuran dilakukan pada periode ini.
“Sebenarnya untuk pengukuran tahap kedua sudah dilakukan bulan lalu. Tapi sampai sekarang hasilnya belum turun, belum dikirim kementerian. Tapi kalau lihat kondisi sekarang, kemungkinan konsentrasi PM 2.5 akan lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Merianti pun menjelaskan perihal PM 2.5 ini. Istilah itu kata dia, ditujukan pada partikel udara yang berukuran sangat kecil. Angka 2 dan 5 pada penyebutannya adalah ukuran untuk partikel itu, yakni 2,5 mikrometer. Sebagai pembanding, ukuran PM 2.5 ini 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia.
PM 2.5 dihasilkan dari aktivitas sehari-hari manusia maupun aktivitas alami bumi. Beberapa contoh aktivitas yang bisa memproduksinya adalah penggunaan kendaraan bermotor yang menghasilkan emisi gas buang, pembakaran sampah, kebiasaan merokok, debu yang beterbangan, gunung meletus, serta kebakaran hutan.
“Asap yang dihasilkan dari berbagai aktivitas itulah yang memiliki kandungan PM 2.5. Dan di Bitung ini, karena kota industri jadi produksi PM 2.5-nya sangat tinggi. Jadi, tanpa asap karhutla pun kualitas udara kita memang cukup mengkhawatirkan. Apalagi saat ini El Nino masih berlangsung,” tuturnya.
Terpisah, Pitter Lumingkewas selaku Kepala Dinas Kesehatan Pemkot Bitung membeber dampak dari penyebaran asap karhutla. Contoh konkritnya menurut Pitter, adalah peningkatan jumlah pasien penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut alias ISPA.
“Dibanding periode sebelumnya, sejak Bulan Juli terjadi peningkatan jumlah pasien ISPA. Buktinya ini, pada Bulan Juli kasus ISPA tercatat ada 876 kasus, kemudian Agustus naik jadi 1.041 kasus, dan September stabil di 1.038 kasus,” ungkapnya.
Data penderita ISPA ini dirangkum Dinas Kesehatan dari sembilan puskesmas yang ada di Bitung. Data tersebut belum termasuk jumlah kasus di Bulan Oktober yang masih sementara direkapitulasi. Selain itu, data dimaksud juga tidak mengakomodir pasien ISPA yang dirawat di luar sembilan puskesmas di bawah Dinas Kesehatan.
Data jumlah penderita ISPA juga turut mengungkap fakta lain. Fakta tersebut adalah kaum yang masuk kategori rentan terserang ISPA di situasi saat ini. Kaum dimaksud adalah anak-anak dan lansia. Karena itu, Pitter berharap temuan yang dibebernya bisa membuat masyarakat menjadi lebih waspada.
Sebelumnya, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Bitung sudah menyampaikan soal migrasi asap karhutla ke wilayah Sulawesi Utara. Menurut Kepala Stasiun Aqil Ihsan, asap yang menyebar ke sini adalah kiriman dari karhutla di wilayah Kalimantan, Maluku dan Papua. Namun selain itu, karhutla yang terjadi di Bitung dan daerah sekitar juga punya andil serupa.(bds)







